"Nggak tau nih tiba-tiba nemu tulisan ini di salah satu buku. Entah kapan nulisnya, kenapa bisa nulis ini, tokohnya siapa, entahlah aku sendiri lupa-__- Baru sadar kalimatnya alay, melankolis banget, iuuhh. Astagaaaa .__. Tulisan ini dibuat tahun lalu. Maaf ya kalau nggak layak dibaca, atau ada yang ngrasa jalan hidupnya mirip, malang banget nih orang haha, just kid. Tulisan ini tidak bermaksud apa-apa :D "
Aku percaya di dunia ini nggak ada yang kebetulan. Semua sudah direncanakan oleh Sang Maha Pencipta. Daun yang gugur aja sudah direncanakan Allah. Akan selalu ada tujuan dari sebuah penciptaan. Seperti aku dan kau di sini.
Aku rasa bukan tanpa alasan. Allah sudah merencanakan pertemuan kita, walaupun (mungkin) aku bukan untukmu dan kau bukan untukku.
Jujur saja, muak dengan rasa ini. Sakit, ngilu urat nadiku. Bukan karna kau, tapi... karna aku yang tak bisa melupakanmu.
Rasanya ingin pergi saja. Tapi setiap aku siap melangkah, kau selalu menarikku untuk kembali di sini. Seperti saat itu, saat kau ambil bagian yang seharusnya bukan untukmu, duduk di sampingku dan kau perlihatkan padaku simbol itu. Mungkin kau tak bermaksut apapun. Seandainya kau tau saat itu aku tersenyum dan menangis karenamu. Rasa damai sentuh jiwaku sekaligus remukanku karena pertahanku begitu rapuh oleh pesonamu.
Kau tau sekuat hati aku membalik perasaan, membiarkan gaduh di dalamnya tampak tenang. Aku tak apa-apa asal kau jangan muncul terus. Gandenglah tangannya dan bahagiakan DIA. Jadilah orang yang tegas. Aku tau, terkadang DIA menangis pilu, mungkin nyaris remuk.
Mencintaimu adalah semangat bagiku. Kau adalah cinta yang tak pernah kumiliki. Maaf aku menghindarimu. Aku hanya butuh waktu. Bukan untuk melupakanmu, bukan... tapi untuk mempersiapkan kalau-kalau kau dan aku bertemu kembali. Satu hal yang harus kau tau, aku tidak pernah menyesal bertemu denganmu. Terimakasih untuk caramu membuatku tersipu, tersenyum dan menangis pilu.See you . . .
